Indahnya kedamaian



Iklan Single (Bawah Judul)

 SAUDARAKU, yang paling kita butuhkan di negeri ini adalah kedamaian. Alam negeri kita sangat kaya dan tidak akan bisa dikelola jika waktu kita habis untuk bertengkar. Jangankan pada sebuah negeri, di rumah pun --yang kita hiasi dengan kasur yang empuk dan peralatan rumah yang mahal-- tidak akan terasa damai jika suami dan istri sibuk bertengkar, orang tua dan anak selalu berselisih. Di kantor pun tidak akan terasa nyaman jika karyawan, direksi, dan staf manajemen bertengkar. Keuntungan apa yang bisa diperoleh dari pertengkaran?
Mengapa kita bertengkar? Salah satu sebabnya adalah karena kita belum terbiasa menyikapi perbedaan dengan cara yang paling tepat. Kita sering melihat perbedaan sebagai bentuk dari permusuhan. Mental kita belum siap melihat perbedaan. Perbedaan pendapat sering dianggap sebagai perlawanan atau ancaman. Akibatnya, setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya sendiri.
Pertengkaran dapat terjadi ketika setiap orang membenarkan pendapatnya, setiap kelompok merasa diri paling benar, senang menyalahkan, dan mencari-cari kesalahan orang lain.
Saudaraku, hidup di dunia hanya satu kali. Belum tentu pula kita panjang umur. Haruskah hidup yang sekali-kalinya ini, menjadi penuh sengsara karena permusuhan di antara kita?
Kita harus berbuat banyak untuk menciptakan kedamaian. Kalau kondisi tidak damai, tidak ada yang bisa dinikmati. Kita tidak akan merasa nyaman, enggan untuk berangkat sekolah, stres di perjalanan, guru merasa waswas, orang tua cemas saat melepas anak pergi, dan sebagainya. Karena cemas, sekolah tegang, di jalan tegang, guru waswas, orang tua melepas anak cemas.
Saudaraku, kita harus bertekad dan menanamkan pada diri sendiri, bahwa program terpenting kita saat ini adalah berusaha untuk tidak bertengkar. Ibu-ibu belajar untuk tidak bertengkar dengan suami, kita berani mengalah untuk tidak bertengkar. Atau suami berani mengalah kepada istri untuk tidak bertengkar. Mulailah dari diri sendiri, insya Allah kedamaian akan bisa dinikmati.
Kita bisa mengawali upaya untuk menyelamatkan dan mengubah bangsa ini, dari mengubah diri kita sendiri. Sehebat apa pun cita-cita kita agar bangsa ini berubah (umat, keluarga, dan anak), semua itu tidak akan tercapai jika kita tidak bisa mengubah diri.
Seringkali, kita terlalu memikirkan cara untuk mengubah orang lain, hingga kita tidak meluangkan waktu untuk mengubah diri sendiri. Jika para komandan dan pimpinan ingin agar prajuritnya berubah, maka perubahan ini hanya akan terjadi jika para pemimpinnya mengubah diri. Bagaimana mungkin pemimpin memerintahkan prajurit agar hidup bersahaja, sementara pemimpinnya bermewah-mewah. Janganlah menuntut orang lain, sebelum menuntut diri sendiri. Jangan pula melarang orang lain, sebelum melarang diri. Setiap orang memiliki mata, telinga, dan pikiran yang bisa menilai tindak-tanduk kita. Orang yang perkataannya selalu berlawanan dengan perbuatannya, wibawanya akan jatuh. Meskipun kita tidak berkata apa pun, tetapi kalau kita gigih memperbaiki diri, insya Allah, dampak yang ditimbulkannya akan lebih efektif dalam menyeru orang kepada kebaikan.
Untuk para pemimpin, misalkan jika saya menjadi seorang gubernur dan ingin masyarakat berubah, tentu terlebih dahulu kita harus bertanya, sudahkah saya memberi contoh yang baik kepada masyarakat? Ketika ingin masyarakat salih, bertanyalah, apakah saya sudah salih? Ketika ingin masyarakat damai, tanyakan pada diri sendiri, apakah saya sudah bisa menciptakan perdamaian di keluarga saya sendiri?
Kalau saya menjadi seorang guru dan ingin mengubah murid, apa yang ingin saya ubah? Contoh baik apa yang sudah saya tunjukkan kepada anak didik saya? Kalau saya tidak ingin murid merokok, apakah saya juga bisa berhenti merokok?
Oleh karena itu, Sahabatku... 'ibda binafsik' mulailah dari diri sendiri. Ingatkan selalu tiga konsep perubahan, yaitu (1) mulailah dari diri sendiri, (2) mulailah dari hal yang kecil, dan (3) mulailah saat ini juga.
Kemudian, apa yang harus kita lakukan? Kita harus berlatih untuk meminimalisasi konflik dengan empat rumus. Pertama, kita harus bijak terhadap kekurangan diri dan orang lain. Tidak setiap orang berbuat salah. Ada orang yang melakukan kesalahan karena dia tidak tahu itu salah. Ada pula orang yang melakukan kesalahan dan dia mengetahuinya, tetapi belum sanggup untuk menghindar. Selain itu, ada pula yang berbuat kesalahan karena terpaksa, dan ada pula yang berbuat kesalahan karena sering dan menjadi terbiasa melakukannya.
Kedua, kalau kita ingin nyaman ketika bergaul dengan orang lain, kita harus senang mengingat kebaikan dan berani mengakui kelebihan orang lain. Ketiga, kita harus mulai untuk melupakan jasa dan kebaikan diri. Semakin ingin kita dihargai, dihormati, dan dipuji, kita akan semakin sakit hati. Semua ini hanya akan menyengsarakan kita. Oleh karena itu, lupakanlah. Ingatlah, Allah Maha Melihat. Semakin kita merasa berjasa, kita akan semakin sakit hati. Saudaraku, pujian manusia tidak pernah bernilai apa pun. Pujian dari Allah-lah yang kekal. Pujian dari Allah mulia di dunia dan akhirat.
Wahai Saudara-saudaraku para pembela umat, marilah kita melupakan jasa-jasa kita. Tidak menjadi masalah ketika orang lain tidak mengetahuinya. terkenang pada nasihat Bung Hatta (semoga Allah memuliakan beliau) "Jadilah seperti garam di lautan, asin terasa, tetapi tidak kelihatan."
Keempat, marilah kita sibuk melihat kekurangan diri sendiri, sebelum melihat kekurangan orang lain. Sehebat apa pun perkataan kita, tidak akan ada harganya kalau kita tidak memperbaiki diri. Wallahualam bishawab.***

       

 

Iklan Single (Bawah Artikel)


Artikel "Indahnya kedamaian" Di Posting oleh: Spesialis Wasir dari Blog Pusat pengobatan herbal ampuh, dalam kategori Islami. Melalui permalink http://www.herbaldenature.info/2011/09/indahnya-kedamaian.html. Rating: 1010 Voting: 2013, Tanggal Kamis, 29 September 2011, pukul 00.46. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Tinggalkan Komentar :

 

Post Pilihan

Post Pilihan 2

Post Pilihan 3