Sistem pendidikan di Indonesia



Iklan Single (Bawah Judul)

Pendidikan Masa Hindu-Buddha
Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha. Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990). Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.
Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.
Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.
Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kropak 632 yang menyebutkan bahwa ” masih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa nagara) yang tidak mampu mempertahankan kabuyutan atau mandala hingga jatuh ke tangan orang lain” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 29, 39, Ekadjati, 1995: 67), dapat diketahui bahwa nagara atau ibu kota atau juga pusat pemerintahan, biasanya dikelilingi oleh mandala. Dalam hal ini, antara mandala dan nagara tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. Nagara memerlukan mandala untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, mandala dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib.
Dengan demikian masyarakat yang tinggal di mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa. Kemakmuran suatu negara, keamanan masyarakat serta kejayaan raja sangat tergantung dengan sikap raja terhadap kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, nagara perlu memberi perlindungan dan keamanan, serta sebagai pemasok keperluan yang bersifat materiil (fasilitas dan makanan), agar para pendeta/wiku dan murid dapat dengan tenang mendekatkan diri dengan dewata.
Pendidikan Masa Islam
Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap).
Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya karsyan dan mandala yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf & Pigeaud, 1985: 187).
Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.


A. Pendidikan masa bangsa Portugis dan Spanyol
Setelah menguasai malaka pada permulaan abad ke -16, orang-orang Portugis bergerak mencari daerah sumber rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Mereka menguasai pulau Ternate, Tidore, Ambon dan Bacan. Dalam gerakan selalu di ikuti oleh missinaries Roma Khatolik. Segera sesudah menduduki daerah atau pulau maka langkah pertama yang dikerjakan adalah menjadikan penduduk setempat penganut agama roma katolik. Tugas ini dilakukan oleh padri-padri dari “ordo Fransiskan” sesudah masyarakat pribumi dibaptis langkah berikutnya adalah memberikan pendidikan kepada mereka agar  agama baru yang telah dipeluk dapat diresapi dan didalami. Peranan para missionaris dari “ordo franciskan” kemudian terdesak oleh kaum “Yezuit”(salah satu ordo padri Katolik) dibawah pimpinan Fransiskus Xaverius(1506-1552)yang kemudian menjadi peletak dasar dari Katolik se Indonesia.
Pada tahun 1536 penguasa Portugis di Maluku bernama Antonio Galvano, mendirikan sekolah seminari untuk anak-anak dari pemuka Bumiputera. Selain pelajaran agama juga diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Apakah bahasa pengantar  pada sekolah tersebut digunakan bahasa Portugis atau bahasa daerah tidak dapat diketahui secara jelas. Sekolah semacam ini didirikan di pulau Solor jumlah muridnya mencapai 50 siswa, diketahui bahwa bahasa latin diajarkan pada Bumi Putera ternyata dapat mengikuti pelajaran dan ingin melanjutkan dan meneruskan studi ke Goa, yang menjadi kekuatan Portugis di Asia. Fransiskus Xaverius pada tahun 1547 pergi ke Goa dari Ternate dengan membina pemuda-pemuda Maluku untuk melanjutkan pendidikan ke Goa (Soemarsono Mestoko,dkk:1986:71).
Penyebaran agama Katolik di daerah Maluku demikian pula penyelenggaraan pendidikan tidak banyak mengalami perubahan atau kemajuan yang berarti karena selain hubungan bangsa Portugis dengan Sulatan Ternate kurang baik, mereka harus berperang melawan bangsa Spanyol kemudian Inggris.
Akhirnya Belandalah yang dapat menghalau bangsa Portugis dari Indonesia Timur dan kemudian mengambil alih segala Harta banda termasuk milik Gereja Katolik beserta lembaga pendidikannya. Tetapi sebagian penduduk masih setia terhadap katolik roma hingga Sekarang(Sumarsono Mestoko, dkk:1986:72).

Pendidikan colonial berawal dari kedatangan bangsa portugis ke nusantara, yaitu Maluku, dengan mengemban missi 3G (glory, gold, gospel). Orang-orang Portugis datang ke Indonesia dengan membawa paderi-paderi yang bertugas menyebarkan agama mereka, Katholik Roma. Langkah pertama yang mereka lakukan untuk menyebarkan agama adalah dengan melakukan pembabtisan kepada penduduk setempat setelah itu mereka memberikan pendidikan kepada mereka agar agama baru yang dipeluk itu dapat diresapi dan didalami. Didirikan juga sekolah seminari untuk anak-anak dari para bangsawan dan pemuka masyarakat. Selain pelajaran agama diajarkan pula pelajaran menulis, membaca dan berhitung. (Sumarsono Maestoko, 1979: 36-38)
Setelah VOC menguasai nusantara pendidikan portugis yang beraliran Khatolik-Roma digantikan dengan aliran Kristen-Protestan oleh Belanda. Berbeda dengan kebijakan pendidikan yang ada di belanda yang member wewenang penuh pendidikan kepada gereja, VOC yang diberi wewenang penuh dalam mengatur daerah kekuasaannya tidak memberikan penanganan pendidikan kepada gereja. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran walupun masih tetap dilakukan oleh kalangan agama tetapi mereka adalah pegawai-pegawai VOC. Pendidikan VOC diselenggarakan selain karena kebutuhan orang-orang Belanda akan pendidikan juga karena kebutuhan VOC akan tenaga kerja pembantu pribumi yang murah. Untuk dapat melaksanakan tugasnya, mereka perlu diberi pendidikan sekedarnya. VOC selain mengambil alih sekolah-sekolah milik Portugis juga mendirikan sekolah sendiri. Bebrapa sekolah milik VOC anatara lain Batavische shool, sekolah lati, seminarium theologicum, dan academie der Marine. (Sumarsono Maestoko, 1979: 41-44)
Setelah VOC mengalami kebangkrutan maka Indonesia langsung berada di bawah kekuasaan kerajaan Belanda. Saat itu di Eropa muncul aliran baru, yaitu Aufklarung. Menurut aliran itu pendidikan harus dipisahkan dari gereja. Belanda menerapkan aliran itu ke Indonesia. Pendidikan tidak lagi memihak suatu agama, persekolahan diarahkan untuk membentuk suatu golongan elite social yang digunakan sebagai alat supermasi politik dan ekonomi belanda. (Sumarsono Maestoko, 1979:47-48). Tujuan pendidikan masa Hindia Belanda adalah memnuhi kebutuhan tenaga kerja dan buruh bagi Belanda.(Redja Mundyahardjo, 2001:262) Belanda membatasi pendidikan hanya untuk kalangan bangsawan pribumi. Baru setelah dicetuskannya politik etis, Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah barat untuk kalangan pribumi. Pendidikan yang disediakan oleh belanda hanay sekedar belajar membaca, menulis dan berhitung. Setelah lulus dari sekolah mereka hanay bekerja sebagai pegawai kelas rendah bagi kantor-kantor belanda.( Pulung Septyoko, 2008:4)


Iklan Single (Bawah Artikel)


Artikel "Sistem pendidikan di Indonesia" Di Posting oleh: Spesialis Wasir dari Blog Pusat pengobatan herbal ampuh, dalam kategori . Melalui permalink http://www.herbaldenature.info/2012/03/sistem-pendidikan-di-indonesia.html. Rating: 1010 Voting: 2013, Tanggal Sabtu, 10 Maret 2012, pukul 10.24. Anda dapat melihat tulisan menarik yang lainnya di bawah ini :

Tinggalkan Komentar :

 

Post Pilihan

Post Pilihan 2

Post Pilihan 3